Liputan 6 2 jam 12 Menit
Liputan6.com, Zurich: Badan Sepakbola Dunia (FIFA) memulai investigasinya terhadap dugaan jual beli suara dalam kampanye pencalonan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022. Sorotan penyelidikan tertuju ke Spanyol yang menggandeng Portugal sebagai tuan rumah bersama dan Qatar.
Dua calon ini mendapat perkalukan khusus dari Komite Etika FIFA. Belum resmi memang karena FIFA baru akan mengambil keputusan paling cepat di pertengahan November, namun rumor sudah berhembus keras dari markas mereka di Zurich, Swiss.
Kolusi antara negara calon tuan rumah dan anggota Komite Eksekutif FIFA yang memiliki hak suara dalam memilih negara penyelenggara secara tertulis dilarang dalam peraturan FIFA. Akan tetapi, dua anggota dari total 24 orang: Amos Adamu (Nigeria) dan Reynald Tamirii (Tahiti) dijebak dalam sebuah skenario racikan koran Inggris, Sunday Times (Baca: FIFA Investigasi Jual Beli Suara).
FIFA langsung menskors Adamu dan Tamirii, tapi badan yang dipimpin Sepp Blatter itu menolak untuk menunda proses pemungutan suara yang dijadwalkan pada 2 September nanti. Belum juga diketahui apakah FIFA mencabut hak suara dari Adamu dan Tamirii. Empat ofisial FIFA lainnya juga kena imbas dan terkena skorsing.
Spanyol/Portugal merupakan salah satu dari calon tuan rumah PD 2018. Pesaing mereka yaitu Inggris, Rusia, dan Belanda/Belgia. Qatar bersaing dengan Australia, Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan dalam merebut jatah penyelanggara untuk PD 2022.
Blatter kelabakan. Pria asal Swiss itu menyatakan, FIFA bukan organisasi korupsi. Saya terkejut dengan anggapan FIFA sebagai sarang koruptor. Kalau ada tindakan yang melanggar kami memiliki komite khusus (komite etika). Itulah perlunya komite ini, tutur Blatter yang tidak memungkiri menang ada saja oknum berhati iblis dalam organisasi yang disetirnya.(DIM/Soccernet)


0 komentar:
Posting Komentar